Miliki Kesabaran
ORANG yang memiliki kesabaran, tidak mudah putus asa. Kenapa? Karena
ada sesuatu yang kuat di dalam dirinya. Sekalipun didera masalah
bertubi-tubi, dia tidak mudah putus asa. Sementara orang yang tidak
memiliki kesabaran, jika dibelit persoalan, mungkin langsung ke-cewa
dan menyerah pasrah. Orang seperti ini dengan sendirinya tidak bisa
menikmati cinta kasih dan pertolongan Tuhan di dalam kehidupannya
karena tidak merasakan munculnya kesabaran seba-gai suatu sudut
pertahanan yang bisa menguatkan dirinya.
Orang yang memiliki
kesabaran, tidak akan marah tanpa arah. Dalam Alkitab ada tertulis:
jangan-lah amarahmu bertahan sampai matahari tenggelam. Maksudnya,
sebelum matahari tenggelam, perasaan amarah itu sudah harus hilang.
Ungkapan di atas mengan-jurkan agar sifat amarah itu jangan
berlarut-larut. Sebab jika kemarah-an dibiarkan berlarut-larut, akan
timbul kebencian. Rasa benci yang dipelihara akan berubah menjadi
dendam. Rasa dendam berpotensi mengarahkan kita melakukan suatu
tindakan dosa yang dampak-nya bisa sangat mengerikan.
Meski
demikian, bukan berarti pula kita tidak boleh marah, sebab Yesus
sendiri pernah marah. Marahlah kalau kebenaran diper-mainkan. Marahlah
kalau kebebalan dipertontonkan. Marahlah karena kedegilan dan ketololan
dilakukan berulang-ulang. Marah karena hal-hal seperti itu jelas
memiliki arah. Tetapi marah tanpa arah adalah marah tanpa sebab dan
tujuan yang jelas. Tidak ada masalah, marah. Salah sedikit,
marah-marah. Itu contoh-contoh kemarahan yang tidak punya arah. Orang
yang suka marah tanpa arah, pada dasarnya sedang mem-pertontonkan bahwa
dirinya tidak punya pegangan. Orang seperti ini sangat sensitif, sangat
emosional. Orang yang memiliki sifat semacam ini kondisinya juga sangat
labil. Kenapa? Karena dia tidak memiliki akar atau pegangan yang kuat,
sehingga tidak punya daya tahan. Dan orang-orang semacam inilah yang
gampang putus asa. Dari sini dapat pula ditarik se-macam kesimpulan
bahwa, kemarahan itu timbul karena faktor ke-putusasaan. Kemarahan itu
timbul karena
tidak berakar pada satu kekuatan yang solid sehingga
membuatnya sangat labil, yang pada gilirannya membuatnya tidak memiliki
kemampuan mengendalikan diri. Oleh karena itu, kita mutlak harus
memiliki kesabaran sebagai sesuatu yang telah Tuhan anugerahkan kepada
kita. Dan itu wajib kita aplikasikan dalam hidup kita sehari-hari.
Yang
kedua, orang yang mem-punyai kesabaran, melihat perma-salahan sebagai
anak tangga menuju kemajuan. Jika dia terbentur pada suatu masalah, dia
tidak lari. Sebab dia justru melihatnya sebagai anak tangga menuju
kemajuan. Karena jika ada orang yang sudah biasa dan bisa melewati
masalah, dengan sendirinya dia punya pengalaman menangani/mengatasi
masalah. Orang yang sudah terbiasa mengatasi masalah, dengan sendirinya
daya tahannya makin bertambah. Jadi, masalah merupakan sebuah latihan
baginya, sebuah ujian yang sangat penting.
Orang-orang Kristen
saat ini, kebanyakan cenderung menjadi cengeng. Ini terjadi pada
orang-orang yang punya anggapan bahwa dengan percaya kepada Tuhan, kita
tidak bakal dapat masalah lagi. Bagi orang-orang seperti ini, Tuhan
adalah tempat membereskan semua persoalan. Tuhan hanya sebagai tempat
pelarian atau pelampiasan emosi. Sikap ini jelas kontra-produktif
dengan ucapan Yesus, "Mau ikut Aku? Sangkal dirimu, pikul salibmu."
Ucapan Yesus itu tentu tidak sejalan dengan kecenderungan kebanyakan
orang Kristen masa kini yang lari ke Tuhan hanya jika sedang dilanda
persoalan. Sebalik-nya, jika sedang merasa senang, kita tidak punya
waktu untuk Tuhan, tetapi sibuk dengan hantu. Maksudnya kita berasyik-asyik dengan kenikmatan duniawi yang menjerumuskan.
Inilah
bentuk kecenderungan yang salah, sehingga keberimanan kita kepada
Tuhan, seringkali bukan ditakar atau diukur dari bagaimana kita
menyenangkan Tuhan, tetapi bagaimana disenangkan oleh Tuhan. Orang
Kristen yang punya sifat semacam ini, yang inginnya hanya disenangkan
Tuhan, memiliki mentalitas yang sangat payah, dan sangat tidak layak
menyandang predikat sebagai laskar Kristus. Sebab yang namanya laskar,
tempatnya di medan tempur, dan permintaannya bukan bagaimana
disenangkan oleh Tuhan. Laskar adalah suatu posisi yang sangat
terhormat, karena dia diberi kepercayaan untuk berjuang. Jadi, namanya
bukan laskar jika meminta baju dengan tanda bintang kehormatan. Laskar
bukan orang yang tahunya hanya makan enak dan minum nikmat.
Kecenderu-ngan semacam ini tentu membuat orang menjadi malas dan bahkan
membahayakan bagi orang lain.
Seorang pengusaha sukses, tentu
berjuang sehingga mampu membangun perusahaannya. Sedangkan orang yang
selama ini mendapat banyak fasilitas, kebanyakan mengalami kegagalan.
Banyak contoh membuktikan bahwa generasi pertama yang membangun sebuah
perusahaan besar adalah orang-orang gigih, punya semangat juang tinggi,
pantang menyerah meskipun didera berbagai kesulitan dan kesusahan yang
luar biasa. Namun, tidak jarang anak-anaknya atau cucu-cucunya yang
merupakan generasi kedua dan ketiga, yang tidak pernah merasakan
masa-masa susah dan sulit, justru mereka inilah yang membuat perusahaan
hancur. Tapi perlu diingatkan pula bahwa tidak semua orang mesti dibuat
susah dulu, supaya berhasil. Yang jelas kita dituntut untuk bisa
menghadapi segala masalah dan bertumbuh di situ.
Konsep ini
harus ditanamkan supaya kita melihat bahwa setiap permasalahan itu
adalah anak tangga menuju kemajuan. Jangan memotong kompas untuk bisa
lari ke jalan yang mungkin lebih mudah, tetapi salah. Misalnya, jika
sakit, kita berdoa supaya disembuhkan Tuhan. Namun saat Tuhan
'memperlambat' proses penyembuhan dalam rangka menguji, kita lari ke
dukun. Ini jelas suatu contoh mentalitas yang payah.
Orang
yang memiliki kesabaran memiliki daya tahan yang tangguh karena ada
pengharapan yang kuat. Pengharapan dari mana? Pengharapan akan kasih
Kristus. Pengharapan akan kasih yang menggelora dan terus berkembang
dalam batin, membuat kita sangat kuat luar biasa.